Dayak

January 17, 2007 at 5:31 pm (Borneo, Borneo Culture, Borneo History, Borneo Past, Dayak, Heart of Borneo, legend, mysterious)

dayak_longhouse_in_galleryfull.jpgdayak-shaman.jpg

Dayak adalah nama suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan.

Dayak

Ada banyak pendapat tentang asal-usul orang Dayak. Sejauh ini belum ada yang sungguh memuaskan. Pandapat umumnya menempatkan orang Dayak sebagai salah satu kelompok suku asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan. Gagasan (penduduk asli) ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu, diduga nenek moyang orang Dayak berasal dari beberapa gelombang migrasi.

Gelombang pertama terjadi kira-kira 1 juta tahun yang lalu tepatnya pada periode Intergasial-Pleistosen. Kelompok ini terdiri dari ras Australoid (ras manusia pre-historis yang berasal dari Afrika). Pada zaman Pre-neolitikum, kurang lebih 40.000-20.000 tahun lampau, datang lagi kelompok suku semi nomaden (tergolong manusia moderen, Homo sapiens ras Mongoloid). Penggalian arkeologis di Niah-Serawak, Madai dan Baturong-Sabah membuktikan bahwa kelompok ini sudah menggunakan alat-alat dari batu, hidup berburu dan mengumpulkan hasil hutan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga sudah mengenal teknologi api. Kelompok ketiga datang kurang lebih 5000 tahun silam. Mereka ini berasal dari daratan Asia dan tergolong dalam ras Mongoloid juga. Kelompok ini sudah hidup menetap dalam satu komunitas (rumah panjang?) dan mengenal tekhnik pertanian lahan kering (berladang). Gelombang migrasi itu masih terus berlanjut hingga abad 21 ini. Teori ini sekaligus menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak memiliki begitu banyak varian baik dalam bahasa maupun karakteristik budaya.

imagescal19t0g.jpgdayak-shield.jpg

Dayak pada masa kini

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub suku. Meskipun terbagi dalam ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak); pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari.

Menurut Prof. Lambut dari Univesitas Lambung Mangkurat, secara etnologis, maka manusia Dayak haruslah dibagi menjadi :

  1. Dayak Mongoloid
  2. Dayak Malayunoid
  3. Dayak Autrolo-Melanosoid
  4. Dayak Heteronoid

Tanah Dayak

Tanah Dayak adalah sebutan untuk bagian tengah Kalimantan Tengah yaitu DAS Kapuas-Murung dan DAS Kahayan (Palangkaraya, Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kabupaten Kapuas). Zaman pemerintahan Hindia Belanda dahulu daerah ini merupakan Afdeeling Dajaklandeen (Afdeeling Tanah-tanah Dayak) yang merupakan wilayah adat suku Dayak Ngaju. Karena itu jika hanya disebutkan Dayak saja, maka identik dengan suku Dayak Ngaju. Seperti juga sebutan Batak berarti suku Batak Toba maupun sebutan Toraja berarti Tana Toraja.

Referensi

  • Cfr. Tom Harrisson, “The Prehistory of Borneo”, dalam Pieter van de Velde (ed.), Prehistoric Indonesia a Reader (Dordrecht-Holland: Foris Publications, 1984), hlm. 299-322
  • Peter Bellwood, “The Prehistory of Borneo”, dalam Borneo Research Bulletin, 24/9 (1992), hlm. 7-13
  • Kathy MacKinnon, The Ecology of Indonesian Series Volume III: The Ecology of Kalimantan, (Singapore: Periplus Editions Ltd., 1996), hlm. 255-363
  • bdk. P.J. Veth, “The Origin of the Name Dayak”, dalam Borneo Research Bulletin, 15/2 (September 1983), hlm. 118-121
  • Fridolin Ukur, “Kebudayaan Dayak”, dalam Kalimantan Review, 22/I (Juli-Desember 1992), hlm. 3-10

Permalink Leave a Comment

Who am I

January 16, 2007 at 3:43 pm (Beginning of Bunian, Borneo, Borneo Culture, Borneo History, Borneo Past, bunian, Kesultanan Sambas, legend, Legenda Melayu, malay, Malay's, Melayu, mysterious, Non Human, sambas, Sambas Bunian, Sambas History, Sambas Malay's, sultan)

“Orang” Bunian are a species in Malay legends, similar to elves.

They are said to exist in large communities, mimicking human social structures, with families and clans. Orang Bunian are said to inhabit the deep forests, far from human contact, but they are also known to live near human communities, and are even said to share the same houses as human families. Some hauntings are attributed to orang bunian.

Orang bunian possess great supernatural powers, and have been known to befriend and assist humans, in particular pawangs or bomohs(malay shamans). Orang bunian are known to abduct human children, and are often blamed for leading people astray in the deep forest.

As orang bunian are very similar to human beings(except for the fact that they are usually ‘ghaib’ or ‘halimunan’, i.e. invisible and have supernatural powers) it is not unknown for them to intermarry with humans. Once a human being has gone to live with the orang bunian, he or she cannot return to the normal world, as orang bunian live far longer than human beings. Stories are recounted of men who married orang bunian, but pining for their families they left behind, decided to leave the orang bunian. Upon their return to human society, they found that everyone they once knew has died, and that many years have passed- similar to the tale of Rip Van Winkle.

Permalink 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.